Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., anggota Komisi IV DPR RI sekaligus Ketua Umum Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI), melakukan kunjungan kerja prioritas ke Sabang, Aceh, pada Jumat (24 April 2026), untuk mempelopori pengembangan strategis di beranda terdepan paling barat wilayah Indonesia. Tiba atas undangan Pj. Wali Kota Sabang, Zulkifli H. Adam, Prof. Rokhmin disambut dengan resepsi resmi yang antusias pada pukul 15.30 WIB di Ruang VIP Terminal Kapal Cepat Pelabuhan Balohan.
Delegasi tersebut, yang mencakup pejabat daerah kunci seperti para Asisten Setda serta kepala dinas Perhubungan, Pariwisata, dan Perikanan, menandakan upaya terpadu untuk merevitalisasi sektor ekonomi biru, logistik, dan pariwisata bahari di Sabang.
Kunjungan tersebut juga turut didampingi Ibu Mary, yang mewakili PT SCO-Setu Sino Nusantara dan PT Obor Indonesia China, guna menyoroti fokus kunjungan pada penarikan investasi internasional yang produktif. Kehadiran pemangku kepentingan sektor swasta ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi strategis Pelabuhan Bebas dan Bandara Internasional Sabang sebagai bagian dari kawasan industri terpadu yang dirancang untuk mempercepat aktivitas ekonomi regional dan menciptakan lapangan kerja lokal.
Komitmen Nasional dan Pembangunan Agro-Maritim
Meskipun Prof. Rokhmin mewakili daerah pemilihan Jawa Barat VIII, ia menegaskan mandat konstitusionalnya untuk memperjuangkan pembangunan agro-maritim di seluruh penjuru negeri. Ia menyatakan bahwa kemakmuran wilayah seperti Sabang sangat vital bagi kedaulatan negara dan ketahanan pangan nasional secara keseluruhan.
Fokus utama dari peninjauan lapangan tersebut adalah lokasi pembangunan Koperasi Desa Maritim dan Perikanan (KDMP) di Cot Abeuk. Sambil mengakui kemajuan fisik proyek tersebut, Prof. Rokhmin menegaskan bahwa infrastruktur saja tidak cukup; ia menekankan bahwa ukuran keberhasilan yang sebenarnya terletak pada; tata kelola profesional (professional governance), kualitas sumber daya manusia, dan keberlangsungan usaha.
Menurutnya, koperasi tidak boleh hanya menjadi simbol, tetapi harus berevolusi menjadi pusat kegiatan yang produktif dan berdaya saing guna memberikan pemberdayaan konkret bagi masyarakat lokal.
Visi Masa Depan Sabang
Dengan populasi sekitar 44.050 jiwa pada tahun 2025, Sabang—khususnya Pulau Weh—diposisikan sebagai pusat kritis bagi logistik maritim internasional dan investasi ramah lingkungan. Kunjungan diakhiri dengan tur ke beberapa lokasi strategis di seluruh pulau, memberikan delegasi pandangan langsung mengenai tantangan operasional dan peluang besar yang tersedia.
Misi ini menegaskan kembali komitmen untuk mentransformasi Sabang menjadi pusat kekuatan ekonomi yang berkelanjutan, memastikan bahwa keunggulan geografis strategisnya diterjemahkan secara langsung menjadi kesejahteraan jangka panjang bagi masyarakat Aceh dan Indonesia pada umumnya.
(Redaksi)
